arsyabi

Follow by Email

Tuesday, July 12, 2011

JIRO

       Setiap orang memerlukakan pendidikan, sebagaimana halnya tanaman atau seekor kuda memerlukan pemeliharaan. semakin baik pendidikan yang diterimanya, maka semakin bermutu kualitas manusia tersebut.
Tentunya kita pun maklum,  agar menjadi pintar maka orang harus berjuang menggunakan akalnya untuk berfikir. Karena memang manusia itu bukanlah sebongkah batu yang dapat diubah bentuknya menurut selera si pematung sendiri. Atau pu manusia itu bukan seperti tumbuh-tumbuhan yang sehat atau tidaknya ditentukan sepenuhnya kepada kerajinan si tukang kebun. Demikian pula manusia itu bukanlah manusia yang dapat dibentuk hanya oleh guru atau seorang pendidik belaka. Tetapi segala sesuatunya itu ditentukan oleh diriny sendiri. Oleh karena itu seberapa sering pun kita mendengar nasihat dari orag-orang bijak, tetapi selama kita enggan menggunakan akal dan hati kita untuk memahaminya maka itu tidaklah ada artinya.
Manusia memang tidak cukup hanya dengan bersandar kepaada pendidik dari luar dirinya. Manusia bukanlah barang pasif yang dapat dibentuk semaunya oleh faktor luar, yaitu sepertinya halnya seorang pematung    
membentuk batu. Manusia berbeda dengan batu. Manusia selain memerlukan pendidik dari luar dirinya, ia juga harus menjadi pendidik bagi dirinya. Para filsuf  besar mengatakan,"jika manusia tidak mempunyai penasihat di dalam hatinya, maka segala nasihat yang diberikan oleh orang-orang bijak tidak akan dapat mendatangkan manfaat baginya.
Dari hal di atas, kiranya perlulah kita sadari benar bahea kita memang berbeda dengan batu. Batu tidak memerlukan perjuangan dalam dirinya untuk berubah menjadi patung. Di tangan sang pematunglah yang menbbuat nasibnya menjadi patung yang indah atau jelek. Manusia tidak demikian. Tidak ada orang bijak di dunia ini yang mampu membuat manusia menjadi indah. Bentuk kita memang sepenuhnya diserahkan kepada diri kita sendirri. Bahkan wejangan dari seribu nabi pun tidak akan mampu menjadikan manusia itu indah. Oleh karena itu, mungkin percuma saja kita menghabiskan waktu mengikuti pengkajian-pengkajian agama bila hati kita sendiri tidak mau berjuang untuk menghayati segala yang disampaikan. Atau orang Betawi bilang, percuma ente ngaji kalo cuma "jiro"doang!{jiro= habis ngaji ditaro!}

No comments: