arsyabi

Follow by Email

Friday, November 25, 2011

ADIKKU MENGHAPUS AIR MATANYA


ADIKKU menghapus air matanya. Ritual ini berjalan setiap dia akan berangkat ke kantor. Si kecil akan meronta-ronta menolak untuk berpisah dengan ibunya tersayang. Sementara sang ibu harus berkejaran dengan waktu untuk menunaikan tugasnya di kantor.

Pemandangan berikutnya bisa ditebak, sang ibu--adikku--dengan penuh rasa bersalah harus meninggalkan buah hatinya di tangan seseorang yang notabene tidak dikenalnya. Seorangkhadimat (pembantu) yang berasal dari yayasan antah berantah, dan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu pikiran seperti apa yang berkecamuk dalam kepalanya saat mengasuh anak itu.

Adikku berkeluh kesah, panjang pendek, “Aku tak rela, tak dapat menyaksikan sendiri anakku memulai langkah pertamanya, mengucapkan kata pertamanya, bahkan aku tak rela bila dia harus menggantungkan diri pada orang lain selain pada aku sendiri, ibu kandungnya.”

Sementara berhenti bekerja pada saat ini kelihatannya belum bisa dimasukkan dalam daftar alternatif.

Adikku kembali mengusap air matanya, membayangkan buah hati yang sedang lucu-lucunya itu.

Tentu saja bukan hanya adikku, tapi semua ibu bekerja lain menghadapinya. Pilihan yang sangat berat.

Di satu pihak, ilmu telah dituntut bahkan sampai ke pelosok bumi, menunggu untuk diamalkan dan dirasakan manfaatnya oleh sekitar. Di lain pihak kualitas generasi penerus yang akan menentukan ke mana arah bangsa Indonesia kelak berada dalam genggaman ibu.

Bila ibu memilih berkarir, ibu akan memperoleh sarana untuk aktualisasi diri dan mengamalkan ilmunya, tapi akan kehilangan saat-saat berharga untuk membina sendiri anak-anaknya. Namun bila ibu memilih di rumah, kadang menuai kekecewaan karena tidak menemukan sarana untuk menuangkan aktualisasi diri, tersibak dalam bentuk ketidakpuasan yang tentunya akan berimbas juga pada sang anak. Serba salah!

Memang, tak mudah untuk menjadi seorang ibu. Sungguh tidak mudah. Tapi sungguh menarik untuk mengamati apa yang terjadi di sekeliling kita. Sebagian dari kita, kaum ibu, mengorbankan karir untuk tinggal di rumah.

Untuk mengisi kekosongan jiwa karena kehilangan sarana aktualisasi diri, sang ibu menyibukkan diri dengan ikut arisan, jalan-jalan di mal, atau menyaksikan acara-acara telenovela serta acara idola lainnya yang bertebaran dalam program televisi. Kadang kuantitas waktu bersama antara anak dan ibu bisa sangat panjang. Namun waktu tersebut dilalui tanpa kualitas yang berarti. Dan, anak mempunyai pembantunya sendiri yang mesti tunduk pada perintah si raja atau ratu kecil.

Sungguh sedih menyaksikan seorang anak yang hidupnya selalu tergantung pada bala bantuan, tak dibiasakan untuk bertanggung jawab membereskan situasi porak poranda yang telah ditimbulkannya sendiri. Kita bayangkan setelah besar nanti, dia akan mengharapkan orang lain bertanggung jawab terhadap masalah yang ditimbulkannya sendiri.

Sebagian ibu lain larut dalam karir dan pekerjaan. Seakan waktu tak pernah cukup. Bahkan ada yang rela meninggalkan anaknya berbulan-bulan atas nama karir dan pengembangan diri. Sebagian anak mereka menjadi sangat dekat pada figur pembantu, bahkan melebihi kedekatan pada ibu kandung mereka sendiri.

Sebagai seorang ibu, tiap hari kita dihadapkan pada pergulatan pilihan. Apa yang dilakukan sekarang, tanpa sadar, akan turut mencetak pola perilaku si anak di masa mendatang.

Sungguh pilihan yang tak mudah. Apalagi bila pilihan itu harus diambil oleh seorang ibu yang hidup dan bekerja di Indonesia.

Aku pernah mendengar sendiri komentar miring seorang bapak mengenai rekan kerjanya yang suatu kali terpaksa membawa anak lengkap dengan pengasuhnya ke tempat kerja. Si ibu dicap sebagai ibu yang tidak profesional, meskipun aku amati, pada saat jam kerja, si ibu tak pernah meninggalkan pekerjaannya, dan hanya menemui anaknya ketika jam istirahat tiba.

Begitulah, kita masih belum lagi menghargai hak memberi pengasuhan dari seorang ibu yang bekerja.

Aku teringat bertahun-tahun yang lalu, saat menjadi seorang ibu muda dengan dua orang anak di Negara Paman Sam (Amerika Serikat). Aku amat beruntung mendapat kesempatan bekerja paro waktu di Mohran Stahl and Boyer, sebuah perusahaan yang memberikan pelatihan untuk para eksekutif.

Aku berperan sebagai resource person (narasumber) untuk pelatihan yang mempersiapkan kalangan eksekutif yang akan diterjunkan untuk bermitra dengan para pebisnis dari Asia Tenggara. Mereka ingin tahu langsung latar belakang budaya semacam apa yang akan mereka hadapi, termasuk tata cara, adat istiadat, dan kebiasaan rekan kerja mereka nantinya. Kadang pelatihan ini dilangsungkan di daerah peristirahatan. Sehingga otomatis para resource person harus meninggalkan rumah selama beberapa hari.

Ketika pertama kali diminta untuk bertugas di luar kota, dengan serta merta aku menolak dengan alasan tak bisa meninggalkan kedua anak balitaku. Manajerku, seorang wanita baya yang baik hati, tertawa ramah dan berkata, “Jangan bercanda. Tentu saja kami tidak ingin memisahkanmu dari kedua anak balitamu. Company(perusahaan) akan membayar seluruh biaya untuk kedua anakmu plus baby sitter-nya, lengkap beserta fasilitas yang mereka perlukan seperti transportasi dan penginapan. Kami tentunya tidak ingin dicap sebagai perusahaan yang tidak menghargai hak memberi pengasuhan dari seorang ibu.”

Sambil berkedip, manajerku itu menambahkan, “Klien kami yang menghendaki pelatihan ini pastinya juga tak mau dituntut sebagai perusahaan yang mengabaikan hak seorang ibu, bila dia menolak membiayai semua kebutuhan pasukan balitamu. So, no problem,” katanya seraya tersenyum dan merangkulku dengan ramah.

Saat itu aku ternganga, tak percaya akan keberuntungan ini. Kami seperti mendapat liburan gratis, bahkan bersama dua balitaku dan seorang baby sitter yang, Alhamdulillah, adalah teman karibku sendiri.

Kami ditempatkan di sebuah ruangan khusus dengan tiga kamar dan fasilitas lengkap, di sebuah hotel mewah di Pegunungan Aspen, Colorado. Suatu liburan yang tak mungkin terjadi bila harus membayar dari kocek sendiri.

Selama jam pelatihan, aku berada di ruangan training. Tetapi saat istirahat, rehat kopi, dan makan siang, aku bermain riang dengan kedua anakku yang kelihatannya amat menikmati liburan mereka.

Betapa beruntungnya para ibu di negara maju yang benar-benar telah menghargai hak seorang ibu untuk memberikan pengasuhan pada anaknya. Di sana banyak disediakan fasilitas untuk memudahkan para ibu untuk bekerja tanpa harus mengorbankan buah hatinya.

Acuannya adalah target pekerjaan tercapai. Karena yang dipentingkan adalah kualitas pekerjaan dan bukannya kuantitas waktu yang dihabiskan di kantor. Maka, dengan memanfaatkan fasilitas teknologi telekomunikasi, target kerja ini sebagian dapat mereka lakukan dengan bekerja dalam kenyamanan rumah sendiri. Dengan begini, si ibu tetap dapat menyumbangkan intelektualitasnya tanpa harus mengorbankan hak pengasuhan untuk anak-anaknya.

Aku berangan-angan. Ah, andai para pembuat kebijaksanaan di negeri ini ingat betapa mulia dan pentingnya posisi seorang ibu. Dan, betapa masa depan negeri ini bergantung pada peran ibu dalam mengasuh anaknya. Niscaya hak seorang ibu untuk memberikan pengasuhan pada anaknya akan diperjuangkan dengan sangat serius.

Jika ini terjadi, niscaya kelak akan banyak bermunculan bunda-bunda profesional, baik dalam hal mengasuh anak maupun di dunia pekerjaan, tanpa harus mengorbankan salah satu di antara keduanya. Tentu segala dilema yang dialami para bunda tak perlu lagi terjadi.*
Amelia Naim, trainer pelatihan manajemen/SAHID 

No comments: