arsyabi

Follow by Email

Friday, June 3, 2011

PA GURU AKU MAU IKUT.

Tak lama lagi Tahun Ajaran 2010/2011 akan segera berakhir,kami selaku wali kelas 2c  berencana mengadakan perpisahan kelas.
"Anak2ku sayang, sebentar lagi kalian akan beranjak kekelas selanjutnya," cerita saya kepada anak2. "Hore..!" jawab anak2 serentak."sebelum kalian naik kelas bapak berencana akan mengadakan perpisahan kelas yang akan kita laksanakan disalah satu tempat bermain anak didaerah BSD," lanjut saya bercerita setelah dipotong oleh sahutan anak2.anak2pun semakin antusias dan gembira menyambutnya. "Agar tak memberatkan orang tua kalian,bapak  menyarankan agar kalian utk menabung agar uang yang kita butuhkan untuk biayanya cepat terkumpul". Selesai saya mengumumkannya  anak2pun begitu sangat antusias bahkan  rela uang jajannya untuk di tabungkan.1hari,2 hari,1 minggu,2 minggu akhirnya rencana saya tercium dari Pengurus Kordinator Kelas yang semuanya Wali Murid kelas 2C,beliau mengaku dapat informasi ini dari kelas 2A dan B yang juga akan melaksanakan perpisahan kelas.singkat cerita akhirnya Pengurus KORKEL mempunyai inisiatif untuk memberikan surat pemberitahuan kepada seluruh wali murid rencana perpisahan kelas tersebut yang biayanya bisa lansung dibayarkan tunai atau ditabung kepada wali kelas.Sehari setelah surat pengumuman diberikan kepada wali murid angka nominal menabung anakpun lumayan besar tidak seperti yang awal.hampir 2pekan anak2 menabung sudah ada beberapa siswa yang tabungannya sudah mencukupi dari nominal yang ditentukan dan ada pula satu siswa yang sama sekali belum menabung,dengan perlahan saya hampiri siswa tersebut, "sayang ko kamu belum menabung?" tanya saya,diapun terdiam dan menunduk malu serta tak keluar sepatah katapun dari lisannya,sayapun tak melanjutkan pertanyaan padanya. ke esokan harinya tepat sebelum bel jam pelajaran pertama berbunyi datang seorang wali murid anak tersebut menghampiri saya."Oia Pak Umbah saya ingin berbicara mengenai perpisahan kelas dengan Bpk," kata wali murid."baik Bu," jawab saya, "tapi sebentar ya bu saya beritahu Pak Pinto dulu untuk membuka kelas,sebentar ya bu," ijin saya kepada wali murid tersebut.
setelah saya minta tolong kepada pak pinto untuk membuka kelas akhirnya saya kembali menghampiri wali murid tersebut. "baik Bu,ada yang bisa saya bantu?" tanya saya. "Begini Pak, anak saya si A tidak bisa saya ikut sertakan pada acara perpisahan kelas," kata wali murid."Kenapa bu?" tanya saya lagi."Buat kami acara ini kurang begitu penting lagi pula nantikan dikelas enam juga ada acara seperti ini,dan lagi pula kami tidak ada biaya untuk acara ini," jawab wali murid tersebut dengan nada yang tidak enak didengar.saya hanya bisa terdiam dan mengelus rambut anak wali murid tersebut yg ikut bersamanya."Ya sudah, jika memang perpisahan ini kurang begitu penting bagi ibu dan memang tidak ada biaya saya pun tidak memaksa bu," kataku sambil melirik ke arah anaknya tiba2 cembetut."Sayang kamu kenapa?" tanya saya. "A sedang sakit pak," jawab Wali Murid. "A sakit apa?" tanya saya kepada anaknya."panas dan pusing pak," lagi-lagi ibunya yang menjawab. "ya sudah klo gitu kamu istirahat dirumah saja ya," rayu saya.
setelah panjang lebar kami bicara akhirnya wali murid tersebut pun ijin utk pulang dan anaknya yang sedang sakit, menurutnya, enggan pulang ia ingin tetap disekolah mesti ia tak mau masuk kelas utuk belajar.
keesokan harinya tepat sebelum jam pelajaran pertama mulai saya masuk kelas dan membuka kelas tersebut dilanjutkan dengan Ngaji Morning.selepas itu saya bertanya kepada anak2,"siapa yang mau menabung?"
"saya pak," jawab anak riuh."Baik yang namanya bapak sebutkan silahkan kedepan, Azka, Arjou, Fira, Naila, Icha, Raikhan, Fakhri, Faqih..." lalu tiba2 datang si A menghampiri saya sambil meneteskan air mata. "Kamu kenapa sayang?" tanya saya. "Saya tidak menabung pak," jawab anak tersebut. "Tidak apa-apa sayang lagi pula kamukan memang tidak ikut."
"Saya mau menabung Pak tapi tidak boleh sama Umi dan saya juga ingin ikut perpisahan dengan teman2," cerita anak tersebut sambil menangis. "Kamu sudah bilang sama Umi kalau kamu ingin ikut?" tanya saya. "Belum Pak, saya takut," jawab anak tersebut."Ya sudah kamu tidak menangis lagi yah biar nanti bapak yang bilang ke Umi," rayu saya. Akhirnya anak tersebut pun berhenti dari menangisnya dan sangat senang dengan janji yang saya berikan.

No comments: